Headlines News :
Home » , , » Hebat! Warga Soco Dawe Buat Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Alternatif

Hebat! Warga Soco Dawe Buat Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Alternatif

Written By admin kudusku on Selasa, 05 Mei 2015 | 07:55

KUDUS- Sampah plastik yang berserakan di halaman rumah menjadi inspirasi awal Karsidi (35) membuat alat pengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif.

Warga Desa Soco Kecamatan Dawe Kudus ini suatu ketika menyapu sampah di halaman rumahnya. Sampah yang terdiri dari plastik dan daun, dia kumpulkan kemudian dibakar. "Ketika dibakar, khususnya sampah plastik mengeluarkan cairan seperti minyak. Kemudian dari situ saya bereksperimen," kata Karsidi kepada Tribun Jateng, Sabtu (2/5).

Menurutnya, kebanyakan orang tidak terlepas dari benda yang terbuat dari bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Plastik telah menjadi komponen penting dalam kehidupan modern saat ini.

Peranannya telah menggantikan kayu dan logam. "Banyak benda yang terbuat dari plastik kemudian dibuang begitu saja, misalnya kantong kresek dan botol minuman. Saya hanya peduli dengan lingkungan sekitar," ucap pria kelahiran Kecamatan Bae Kudus ini.
Sifat-sifat keunggulan bahan plastik membuatnya sulit tergantikan dengan bahan lainnya. Namun plastik juga memiliki kelemahan, kata ayah satu anak itu, yakni sulit terurai dalam tanah. "Atas dasar itu kami membuat alat yang bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak alternatif. Selama kurang lebih tiga bulan alat ini dirancang," ucap Karsidi.

Pria yang kesehariannya berwiraswasta di bidang las besi itu menamakan alatnya Destilator. Bahan bakar minyak hasil dari pembakaran sampah plastik, ia namakan minyak plastik (Miplas).
Miplas ini bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor minyak, tungku atau mesin-mesin bakar sederhana. Bahkan, Karsidi pernah memakai bensin alternatif itu untuk bahan bakar motor bebeknya.

Alat ini terdiri atas saluran pemasukan dari besi yang berada di sisi bawah dan berbentuk bulat. Fungsinya, memasukan sampah plastik ke dalam tangki reaktor di atas tungku pembakar. "Sengaja dibentuk bulat agar lebih kuat. Karena sampah dibakar pastinya mengeluarkan zat yang menekan dari dalam. Kalau bentuknya tidak bundar, itu sangat mudah bocor atau mengalami perubahan permukaan," terang Karsidi.

Bahan untuk membakar dari sisi bawah tangki reaktor bisa bermacam. Misalnya, limbah kayu bekas, briket, kompor minyak atau kompor pakai gas. Sistem kerja yang digunakan adalah destilasi kering, yaitu limbah plastik dipanaskan di atas suhu leburnya sehingga berubah jadi uap. Proses pemanasan ini menyebabkan perekahan pada molekul polimer plastik yang menjadi potongan molekul lebih pendek.

Untuk memperoleh uap, tangki reaktor dihubungkan kondensor atau pengembun yang berada tepat di atas tangki. Diperlukan minimal dua kondensor atau wadah untuk memisahkan uap yang mengandung rantai molekul pendek dengan uap yang mengandung rantai molekul panjang.

Di dalam kondensor itu terdapat saringan dari bahan serat kaca dan aluminium. Aluminium berfungsi sebagai penangkar uap sedangkan serat kaca untuk menyaring. "Kondensor di bawah yang terhubung langsung dengan tangki reaktor akan menghasilkan minyak yang belum jernih atau mirip dengan proses penyulingan solar. Sedangkan di atas sudah jernih. Jika ingin menghasilkan minyak yang lebih jernih lagi, dapat ditambahkan kondensor tiga lapis atau lebih," jelasnya.

Penyaluran uap ini menggunakan pipa besi sehingga tahan suhu tinggi atau panas. Selanjutnya, pada setiap kondensor dipasang pipa penyalur untuk mengalurkan embun dari uap yang dihasilkan. Tetes demi tetes uap yang didinginan dan berbentuk cair dapat ditampung dalam botol. Selanjutnya cairan tersebut sudah berbentuk minyak. Satu kilogram limbah plastik dapat menghasilkan sekitar 0,8 liter bahan dasar minyak atau minyak mentah.

(Tribunjateng/Mamdukh Adi)

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. kudusku.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger