Headlines News :
Home » , » Sutikno, Dalang Asal Wonosoco

Sutikno, Dalang Asal Wonosoco

Written By admin kudusku on Sabtu, 20 September 2014 | 09:50

SEPUTAR KUDUS - Sutikno dalang Wayang Klithik Desa Wonosoco.
Tangannya begitu terampil memainkan wayang di Sendang Gading, Desa Wonoco, Kecamatan Undaan, beberapa waktu lalu. Dia memainkan wayang yang tak biasa, Wayang Klithik. Terbuat dari kayu berbentuk pipih, dan bukan wujud tokoh-tokoh dalam cerita Mahabarata sebagaimana wayang kulit pada umumnya. Wayang dimainkannya itu merupakan tokoh-tokoh kerajaan dalam kisah Majapahit.

Sejumlah warga desa menonton pertunjukan tersebut, tak jauh dari mata air Sendang Gading. Tak hanya para pria, sejumlah perempuan dan anak-anak juga menyaksikan kemeriahan pertunjukan itu.

Sutikno, adalah dalang yang memainkan pertunjukan wayang tersebut. Dirinya begitu terampil memainkan wayang, sekaligus mengisahkan cerita dalam setting kerajaan yang melegenda di Tanah Air. Dia merupakan pawaris dalang Wayang Klithik, yang bisa dikatakan satu-satunya di Kudus, Jawa Tengah, atau bahkan di Indonesia. Dia mewarisi kemahiran mendalang wayang khas tersebut, dari ayahnya, Sumarlan.

Hari itu, Sutikno memainkan wayang dalam tradisi Resik-Resik Sendang, yang selalu dilakukan setiap tahun. Tradisi tersebut telah berlangsung sangat lama di desa tersebut. Dalam tradisi tersebut, pentas Wayang Klithik merupakan hal wajib yang harus dilakukan. Tradisi itu bertujuan menjaga mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di desa ujung kabupaten.

"Sebenarnya dulu saya belajar menjadi dalang yang memainkan wayang kulit dengan cerita Mahabarata. Karena saya merupakan keturunan tokoh dalang di desa ini untuk memainkan Wayang Klithik dalam tradisi Resik-Resik Sendang, saya kemudian belajar,” ujar Sutikno kepada pada Agustus lalu.

Saat ini, dirinya menggantikan ayahnya menjadi dalang tetap dalam pertunjukan Wayang Klithik, setiap digelarnya tradisi Resik-Resik Sendang. Pertunjukan wayang tersebut digelar dua kali di dua dari tujuh sendang yang terdapat di desanya. Dua sendang tersebut yakni Sendang Dewot dan Sendang Gading.

Kini, Sutikno merupakan satu-satunya dalang yang bisa memainkan Wayang Klithik, lengkap dengan ceritanya. Belum ada satupun dalang yang bisa memainkan wayang khas desa tersebut, lengkap dengan ceritanya.

"Saya ingin tetap dikenal dan dikenang sebagai dalang Wayang Klithik. Saya bangga bisa mempertahankan warisan leluhur kami. Ini bukan sekadar pertunjukan yang menghibur. Ini adalah warisan yang tetap harus kami jaga, sampai kapanpun,” tutur Sutikno. - See more at: http://www.seputarkudus.com/2014/09/sutikno-satu-satunya-dalang-wayang.html#sthash.phHJNqqM.dpuf
SEPUTAR KUDUS - Sutikno dalang Wayang Klithik Desa Wonosoco.
Tangannya begitu terampil memainkan wayang di Sendang Gading, Desa Wonoco, Kecamatan Undaan, beberapa waktu lalu. Dia memainkan wayang yang tak biasa, Wayang Klithik. Terbuat dari kayu berbentuk pipih, dan bukan wujud tokoh-tokoh dalam cerita Mahabarata sebagaimana wayang kulit pada umumnya. Wayang dimainkannya itu merupakan tokoh-tokoh kerajaan dalam kisah Majapahit.

Sejumlah warga desa menonton pertunjukan tersebut, tak jauh dari mata air Sendang Gading. Tak hanya para pria, sejumlah perempuan dan anak-anak juga menyaksikan kemeriahan pertunjukan itu.

Sutikno, adalah dalang yang memainkan pertunjukan wayang tersebut. Dirinya begitu terampil memainkan wayang, sekaligus mengisahkan cerita dalam setting kerajaan yang melegenda di Tanah Air. Dia merupakan pawaris dalang Wayang Klithik, yang bisa dikatakan satu-satunya di Kudus, Jawa Tengah, atau bahkan di Indonesia. Dia mewarisi kemahiran mendalang wayang khas tersebut, dari ayahnya, Sumarlan.

Hari itu, Sutikno memainkan wayang dalam tradisi Resik-Resik Sendang, yang selalu dilakukan setiap tahun. Tradisi tersebut telah berlangsung sangat lama di desa tersebut. Dalam tradisi tersebut, pentas Wayang Klithik merupakan hal wajib yang harus dilakukan. Tradisi itu bertujuan menjaga mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di desa ujung kabupaten.

"Sebenarnya dulu saya belajar menjadi dalang yang memainkan wayang kulit dengan cerita Mahabarata. Karena saya merupakan keturunan tokoh dalang di desa ini untuk memainkan Wayang Klithik dalam tradisi Resik-Resik Sendang, saya kemudian belajar,” ujar Sutikno kepada pada Agustus lalu.

Saat ini, dirinya menggantikan ayahnya menjadi dalang tetap dalam pertunjukan Wayang Klithik, setiap digelarnya tradisi Resik-Resik Sendang. Pertunjukan wayang tersebut digelar dua kali di dua dari tujuh sendang yang terdapat di desanya. Dua sendang tersebut yakni Sendang Dewot dan Sendang Gading.

Kini, Sutikno merupakan satu-satunya dalang yang bisa memainkan Wayang Klithik, lengkap dengan ceritanya. Belum ada satupun dalang yang bisa memainkan wayang khas desa tersebut, lengkap dengan ceritanya.

"Saya ingin tetap dikenal dan dikenang sebagai dalang Wayang Klithik. Saya bangga bisa mempertahankan warisan leluhur kami. Ini bukan sekadar pertunjukan yang menghibur. Ini adalah warisan yang tetap harus kami jaga, sampai kapanpun,” tutur Sutikno. - See more at: http://www.seputarkudus.com/2014/09/sutikno-satu-satunya-dalang-wayang.html#sthash.phHJNqqM.dpuf
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. kudusku.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger